Rabu, 06 Mei 2015

Ambiguinitas

Bermainlah kita dalam pusaran rasa tak berarah
Hingga terantuk pada realita yang sombong
Kamu, aku dan mereka
Semua menyatu dalam ambiguinitas rasa

--
Terlalu berani kita bermain rasa
Hingga mengabaikan nalar
Melupakan waktu
Meluapkan nafsu
--
Masihhhkah?
Cukupkah?
Tidak...
Terlalu banyak tanya
Hanya menghilangkan jawab
--

Dok: Koleksi Pribad

Bungkamlah dalam diamnya waktu
Hingga angin menyampaikan kabarmu pada purnama tak bernama
Pada labirin rasa tak berujung
_

Makassar yang dingin, 050515

Jumat, 13 Februari 2015

Arti kehilangan


Ilustrasi :swagger-klenger.hol.es

Apa yang paling menakutkan dari kehilangan? Adalah hilangnya banyak harapan setelah sekian lama harap tersebut tertanam dan tumbuh bersemi dalam ruang-ruang pikiran. Adalah hilangnya suatu ritme aktivitas yang biasanya dilakukan dan sekarang hal tersebut tidak dapat lagi dilakukan, entah karena kita kehilangan benda kesayangan, kehilangan seseorang yang kita cintai atau seseorang yang pergi karena memang sudah takdirnya menghadap IIahi.

Menurut Potter dan Perry (1997) kehilangan adalah suatu situasi aktual maupun potensial yang dapat dialami oleh individu ketika berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada, baik sebagian ataupun keseluruhan, atau terjadi perubahan dalam hidup sehingga terjadi perasaan kehilangan.
Dan dampak dari kehilangan adalah perasaan berduka dimana reaksi tiap individu berbeda-beda tergantung tingkat ekspektasinya pada suatu objek.

Menghindar dari kehilangan adalah suatu hal yang mustahil karena sejatinya tak ada yang abadi di dunia ini, bagaimanapun kita menginginkannya pasti suatu saat entah itu barang atau makhluk hidup pasti kelak akan kembali pada sang penciptanya.

Mengapa kehilangan menjadi hal yang sangat menyakitkan? Karena saat memiikinya kita selalu berpikir untuk memiiki seutuhnya dan tidak ingin kehilangannya. Secara manusiawi hal ini sangatlah lumrah. Ibarat kata saat kita mencintai seseorang, keinginan kita adalah hatinya seutuhnya hanya untuk kita seorang dan tak ingin diduakan, sungguh egois bukan? hehehee…..  

Lalu apa yang harus kita lakukan agar kehilangan tidak menjadi hal yang menyakitkan disaat kita mengalaminya?

Pertama, mencoba menerima kehilangan. Sesakit apapun kehilangan yang kita alami pasti memerlukan waktu untuk menormalkan kembali pikiran untuk sampai pada titik normal bahwa kita telah menerima kehilangan tersebut. Lama tidaknya waktu yang dibutuhkan tiap individu pastinya relative, biasanya semakin sakit maka akan semakin lama waktu yang dibutuhkan. Istilah gaulnya waktu untuk move on. Jangan sekalipun mencba untuk menghindar, karena menghindar bukanlah solusi, sebaliknya menghindar hanya membuat pikiran kita teralihkan sementara waktu dan disaat berjumpa atau mengingatnya perasaan sakit akan kembali muncul.

Kedua, kita perlu positive thingking bahwa mungkin “dia” bukanlah jodohku, belum takdir kita untuk bersamanya kini dan mungkin saja dikemudian hari ada yang lebih baik dari hari ini dan kemungkinan-kemungkinan positif lainnya. Pada intinya jangan menggiring pikiran negative saat sedang berduka karena hal itu hanya membuat kita semakin terpuruk dan suit untuk keuar dari lingkaran kedukaan.

Ketiga, Ikhlaskanlah. Untuk mengikhlaskan sesuatu bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan tapi marilah mencobanya. Dengan cara apa? Mari mengubah “kacamata” kita bahwa segala sesuatu yang kita miliki hanyalah titipan dari sang pencipta, tak ada yang abadi, maka kehilangan akan melatih dan menguji sejauh mana kita ikhlas atas skenario yang sudah diatur oleh sang Maha Pencipta. Kelak waktu yang akan meluruhkan segala kedukaan itu.


Catatan khusus:
Tulisan ini terisnpirasi dari banyaknya kehilangan kedukaan yang terjadi disekitar ku dalam waktu sebulan ini. Di antaranya tanteku (mama Anna)yang baru saja keguguran janinnya dengan usia kandungan 5 bulan. Insya Allah dia jadi penghuni surge tante. Om yang telah pergi menghadapNya dalam usia yang masih sangat belia dan meninggalkan istri dan anak yang berusia 18 bulan. Dan terakhir kabar duka dari sahabat backpacker Mamma Yuyu kehilangan adik kecil bernama Fauzan atau dede Ochan yang nota bene saya tidak mengenalnya, namun dari foto yang diupload sungguh membuatku bergidik. Bagaimana perjuangan seorang anak umur balita berjuang menyelamatkan diri saat jatuh dan tenggelam di kanal tanpa seorangpun datang menyelamatkan. Selamat jalan adek Ochan, Om Iwan dan dede bayi, istirahat dengan tenang disisiNya.

Dan special thanks buat seseorang yang telah mengajariku arti dari kehilangan dan arti keikhlasan.

Dini hari di Makassar, 140215

Sabtu, 09 Agustus 2014

Yang Terlupakan


Aku mengeja lagi nama itu
Terlintas dalam benak bayang seseorang
Senyum yang merekah diujung bibir
Mata menyipit namun teduh

Masihkah kau mengenalku?
Aku yang dulu disana
Pernah tersenyum padamu
Menatap anak rambutmu dipermainkan angin sore
Hingga jatuh menyentuh hidung mancungmu

Ahh... aku yakin sosokku tak pernah singgah dalam ruang imajimu
Aku hanya bisa menatap ekor matamu
Tanpa berani menatap jauh dalam retina

Kini kau memanggil namaku
Seakan-akan kita tak pernah saling mengenal
Dan sepertinya  
aku harus mengakhirinya 
sebelum aku sempat untuk memulainya



*Makassar 9 Agustus 2014
Ilustrasi: forum.krstarica.com

Pengunjung