Apa yang paling menakutkan
dari kehilangan? Adalah hilangnya banyak harapan setelah sekian lama harap
tersebut tertanam dan tumbuh bersemi dalam ruang-ruang pikiran. Adalah hilangnya
suatu ritme aktivitas yang biasanya dilakukan dan sekarang hal tersebut tidak
dapat lagi dilakukan, entah karena kita kehilangan benda kesayangan, kehilangan
seseorang yang kita cintai atau seseorang yang pergi karena memang sudah
takdirnya menghadap IIahi.
Menurut Potter dan
Perry (1997) kehilangan adalah suatu situasi aktual maupun potensial yang dapat
dialami oleh individu ketika berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada, baik
sebagian ataupun keseluruhan, atau terjadi perubahan dalam hidup sehingga terjadi
perasaan kehilangan.
Dan dampak dari
kehilangan adalah perasaan berduka dimana reaksi tiap individu berbeda-beda
tergantung tingkat ekspektasinya pada suatu objek.
Menghindar dari
kehilangan adalah suatu hal yang mustahil karena sejatinya tak ada yang abadi di
dunia ini, bagaimanapun kita menginginkannya pasti suatu saat entah itu barang
atau makhluk hidup pasti kelak akan kembali pada sang penciptanya.
Mengapa kehilangan
menjadi hal yang sangat menyakitkan? Karena saat memiikinya kita selalu berpikir
untuk memiiki seutuhnya dan tidak ingin kehilangannya. Secara manusiawi hal ini
sangatlah lumrah. Ibarat kata saat kita mencintai seseorang, keinginan kita adalah
hatinya seutuhnya hanya untuk kita seorang dan tak ingin diduakan, sungguh egois
bukan? hehehee…..
Lalu apa yang
harus kita lakukan agar kehilangan tidak menjadi hal yang menyakitkan disaat
kita mengalaminya?
Pertama, mencoba menerima kehilangan. Sesakit apapun kehilangan yang kita
alami pasti memerlukan waktu untuk menormalkan kembali pikiran untuk sampai
pada titik normal bahwa kita telah menerima kehilangan tersebut. Lama tidaknya
waktu yang dibutuhkan tiap individu pastinya relative, biasanya semakin sakit
maka akan semakin lama waktu yang dibutuhkan. Istilah gaulnya waktu untuk move
on. Jangan sekalipun mencba untuk menghindar, karena menghindar bukanlah solusi,
sebaliknya menghindar hanya membuat pikiran kita teralihkan sementara waktu dan
disaat berjumpa atau mengingatnya perasaan sakit akan kembali muncul.
Kedua, kita perlu positive thingking bahwa mungkin “dia” bukanlah jodohku,
belum takdir kita untuk bersamanya kini dan mungkin saja dikemudian hari ada
yang lebih baik dari hari ini dan kemungkinan-kemungkinan positif lainnya. Pada
intinya jangan menggiring pikiran negative saat sedang berduka karena hal itu
hanya membuat kita semakin terpuruk dan suit untuk keuar dari lingkaran
kedukaan.
Ketiga, Ikhlaskanlah. Untuk mengikhlaskan sesuatu bukanlah hal yang
mudah untuk dilakukan tapi marilah mencobanya. Dengan cara apa? Mari mengubah “kacamata”
kita bahwa segala sesuatu yang kita miliki hanyalah titipan dari sang pencipta,
tak ada yang abadi, maka kehilangan akan melatih dan menguji sejauh mana kita
ikhlas atas skenario yang sudah diatur oleh sang Maha Pencipta. Kelak waktu
yang akan meluruhkan segala kedukaan itu.
Catatan khusus:
Tulisan ini
terisnpirasi dari banyaknya kehilangan kedukaan yang terjadi disekitar ku dalam
waktu sebulan ini. Di antaranya tanteku (mama Anna)yang baru saja keguguran janinnya
dengan usia kandungan 5 bulan. Insya Allah dia jadi penghuni surge tante. Om
yang telah pergi menghadapNya dalam usia yang masih sangat belia dan meninggalkan
istri dan anak yang berusia 18 bulan. Dan terakhir kabar duka dari sahabat
backpacker Mamma Yuyu kehilangan adik kecil bernama Fauzan atau dede Ochan yang
nota bene saya tidak mengenalnya, namun dari foto yang diupload sungguh
membuatku bergidik. Bagaimana perjuangan seorang anak umur balita berjuang menyelamatkan
diri saat jatuh dan tenggelam di kanal tanpa seorangpun datang menyelamatkan.
Selamat jalan adek Ochan, Om Iwan dan dede bayi, istirahat dengan tenang
disisiNya.
Dan special thanks
buat seseorang yang telah mengajariku arti dari kehilangan dan arti keikhlasan.
Dini hari di Makassar,
140215

Tidak ada komentar:
Posting Komentar